
Dari semua game hack and slash yang bertebaran di industri game, Sony
Santa Monica boleh terbilang menciptakan salah satu franchise terbaik
dengan pesona yang masih belum tertandingi saat ini. Benar sekali, kita
tengah membicarakan nama besar God of War.
Ujung tombak eksklusif milik Sony dan produk konsolnya ini memang
terhitung unik, membalut dan memodifikasi mitologi Yunani dalam sebuah
mekanisme gameplay dan gaya sinematik yang didesain untuk menciptakan
pengalaman yang unik. Membunuh para dewa dengan brutal, berhadapan
dengan lusinan monster berukuran masif, serta membawa kehancuran dunia
sebagai konsekuensinya, tiga seri awal God of War menjadi sebuah standar
game hack and slash yang diimpikan oleh banyak gamer.
Berakhirnya cerita Kratos di seri ketiga ternyata tidak membawa akhir
bagi kisah ini. Sony Santa Monica merilis sebuah cerita prekuel lewat
God of War: Ascension.
Anda yang sudah membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah
mendapatkan sedikit gambaran apa yang sebenarnya ditawarkan oleh seri
yang satu ini. Walaupun hadir di sebuah konsol dengan teknologi lawas,
Sony Santa Monica tampaknya berhasil memaksimalkan setiap aspek
Playstation 3 untuk memastikan game ini berjalan secara optimal.
Berjalan dengan framerate yang dapat diandalkan, God of War: Ascension
tetap mampu mempertahankan identitas franchise-nya sebagai game
eksklusif dengan visualisasi yang pantas untuk diacungi jempol. Intisari
gameplaynya sendiri tidak banyak berbeda, namun ada begitu banyak
elemen yang harus diadpatasikan mengingat statusnya sebagai sebuah game
prekuel.
Dengan pesona yang ia tawarkan dan identitas yang tampaknya berusaha
tetap dipertahankan, mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah seri yang
kurang greget? Apa yang sebenarnya kurang dari God of War: Ascension
ini?
Plot

Anda
akan berperan sebagai Kratos “muda”, bahkan sebelum God of War pertama.
Konspirasi antara Ares dan Furies mengurung Kratos dalam ilusi setelah
sebuah tragedi besar yang menimpanya.
Sebagai sebuah prekuel, God of War: Ascension membawa timeline cerita
sebelum event yang terjadi di God of War pertama. Anda masih akan
berperan sebagai Kratos, seorang prajurit Spartan terbaik yang tidak
pernah mengenal rasa takut, namun di sisi lain, begitu mencintai
keluarga kecilnya yang bahagia. Namun sebuah tragedi terjadi penuh darah
pun terjadi, sebuah kejadian yang membentuk Kratos menjadi sosok hero
yang selama ini kita kenal.
Tidak lagi berhadapan dengan para dewa, Kratos kini harus bertempur
melawan para Furies – sebuah ras yang tidak dapat digolongkan Titan dan
Dewa, tetapi memiliki kemampuan yang hampir serupa. Lahir dari
pertempuran antara para Titan dan Dewa di masa lalu, Furies menjadi
kelompok penjaga keadilan, bawahan para Dewa untuk menghukum siapapun
yang melanggar sumpah mereka dengan para dewa. The Furies yang akan
menjadi fokus di Ascension adalah Magaera – yang mampu memanipulasi
objek hidup, Tisiphone dengan kemampuan ilusinya, serta Alecto – sang
pemimpin yang terkuat. Di bawah ketiga Furies inilah, Kratos harus
berhadapan dengan salah satu ancaman terbesar di awal hidupnya. Ancaman
yang juga membentuk karakter Kratos seperti yang kita kenal sat ini.

The Furies inilah yang akan menjadi musuh utama Anda: Alecto, Magaera, dan Tisiphone dengan kemampuan uniknya masing-masing.

Di
bawah bimbingan Orkos, seorang Furies yang berkhianat, Kratos mulai
mempelajari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Untuk keluar dari
ilusi Tisiphone, Kratos harus mencari the Eyes of Truth.
Melupakan darah sang anak dan istri yang mengalir di tangannya,
Kratos hidup “damai” di bawah ilusi milik Tisiphone untuk waktu yang
cukup lama. Namun persinggungannya dengan Orkos, seorang Furies yang
berkhianat memberikan sedikit gambaran akan apa yang sebenarnya terjadi.
Walaupun sadar ia hidup di dalam sebuah ilusi, Kratos sendiri tidak
memahami malapetaka seperti yang sudah ia ciptakan untuk keluarganya.
Dalam usahanya untuk bertemu The Oracle, ia mempelajari bahwa
satu-satunya cara untuk kembali ke kenyataan adalah dengan mendapatkan
the Eyes of Truth dan mengalahkan para Furies. Perjalanan ini mulai
membuka lebih banyak misteri tentang eksistensi The Furies, latar
belakng, dan hubungannya dengan Ares – sang dewa perang.

Petualangan
besar pertama Kratos pun dimulai. Ia bahkan harus berhadapan dengan
Aegeon – sang Hecatonchires. Monster sebesar ini? Tenang saja, monster
besar ini hanyalah satu bagian kecal dari Aegeon yang besarnya tak
berbeda dengan Titan.

The journey starts..
Walaupun dibuka dengan adegan Kratos yang terperangkap di dalam
Aegaeon, si Hecatonchires di awal permainan, namun God of War: Ascension
akan bergerak dengan semua alur timeline yang maju mundur. Pertemuan
dan pertempuran melawan Megaera juga dibarengi dengan cerita masa lalu
yang mendasari pertemuan, konflik, dan latar belakang yang menyeret The
Furies di tengah usaha Kratos untuk mendapatkan kembali realitanya
sendiri.
Lantas apa yang sebenarnya direncakan oleh Ares? Mengapa para Furies
ini berusaha untuk menghalangi sepak terjang Kratos? Siapa pula sosok
Orkos – Furies yang membantu perjalanan Kratos? Semua jawaban dari
pertanyaan ini dapat terjawab begitu Anda memainkan God of War –
Ascension ini.
8
Sebagai sebuah game hack and slash, God of War memang tidak memiliki
ruang yang luas untuk tumbuh, berkembang, atau sekedar menawarkan hal
inovatif yang belum pernah ditawarkan oleh franchise kompetitor lainnya.
Oleh karena itu, bertahan dengan mekanisme serupa, Sony Santa Monica
hanya memodifikasi beberapa elemen yang sebenarnya sudah ada sebelumnya
dan memberikannya peran yang lebih krusial. Statusnya sebagai prekuel
juga memaksa developer ini untuk menghilangkan beberapa hal krusial yang
seolah sudah menjadi identitas God of War selama ini.
Blade of Chaos masih menjadi ujung tombak Kratos untuk menundukkan setiap tantangan yang hadir untuknya, bahkan di Ascension ini. Dengan mengeksekusi kombinasi tombol sederhana yang terbagi atas dua kategori besar – serangan ringan dan berat, Anda bisa menghasilkan rangkaian serangan kombo dengan cepat. Menahan tombol L1, maka Anda akan masuk ke dalam mode serangan yang lebih kuat yang lebih ditujukan untuk menghasilkan damage lebih besar di area yang lebih luas. Musuh yang lebih beragam dengan jenis serangannya yang unik memang menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, tidak hanya sekedar membabi buta, menghindar dengan timing yang tepat dan melancarkan serangan balik akan menjadi strategi untuk memenangkan pertarungan dengan lebih efektif.
Sistem orb juga tetap dipertahankan di seri terbaru ini. Dari setiap
musuh yang berhasil Anda tundukkan atau peti yang dibuka, Anda akan
mendapatkan orb dengan tiga warna untuk menandai fungsi yang berbeda.
Merah berfungsi tak ubahnya sebuah “mata uang” untuk memperkuat senjata
dan serangan magis yang Anda dapatkan, biru untuk memulihkan mana
serangan magic, dan hijau untuk memastikan bar health Anda kembali
terisi penuh. Salah satu perbedaan yang kentara adalah kehadiran Gorgon
Eyes dan Phoenix Feather untuk memperpanjang bar yang kini jauh lebih
mudah ditemukan. Ia tidak lagi tersembunyi dalam batas yang membutuhkan
usaha ekstra untuk mencarinya, namun Anda bisa saja secara tidak sengaja
menemukanya di sudut-sudut ruangan yang tidak sengaja Anda jelajahi.
Sebagai sebuah prekuel, Sony Santa Monica memang tidak mungkin memaksakan diri dan bertahan dengan beragam jenis senjata yang berhasil direbut Kratos ketika memburu para dewa di tiga seri sebelumnya. Tidak bersinggungan dengan para dewa sama sekali di seri ini, variasi senjata Kratos kini dihadirkan lewat mekanisme yang berbeda. Bertahan dengan Blade of Chaos, Kratos akan mendapatkan ekstra kekuatan elemen seiring dengan progress cerita. Jadi alih-alih hanya sekedar serangan biasa, Anda kini bisa membubuhkan api dari Ares, listrik dari Zeus, es dari Poseidon, dan kegelapan dari Hades untuk membuka varian serangan, efek, dan damage ekstra untuk setiap serangan yang Anda lancarkan. Anda juga akan dibekali dengan shorcut yang akan memudahkan untuk mengganti setiap elemen ini secara real time dalam pertempuran. Tidak hanya itu saja, setiap elemen ini juga dapat diperkuat dengan orb merah untuk membuka serangan yang lebih mematikan. Mengumpulkan bar rage yang cukup, Anda juga bisa melancarkan serangan spesial setiap elemen untuk menghasilkan damage area yang dibutuhkan.
Lantas bagaimana jika Anda harus berhadapan melawan musuh dengan
sayap yang tidak terjangkau oleh Blade of Chaos? Di sinilah fungsi
grappling sang pedang begitu berguna. Menghadapi musuh yang lebih besar
secara kuantitas ataupun mereka yang bergerak di luar jangkauan, Kratos
dapat menggunakan pedang ini untuk menarik musuh mendekat dan kemudian
melancarkan kombo untuknya. Tidak hanya untuk menarik, musuh darat yang
diikat dengan Blade of Chaos juga tidak akan mampu menyerang, membuatnya
efektif untuk melakukan crowd-controlling untuk keuntungan
Kratos sendiri. Selain Blade of Chaos, Kratos kini juga bisa menggunakan
senjata yang dijatuhkan oleh para lawan untuk memberikan efek serangan
yang berbeda, dari godam untuk musuh yang menggunakan armor, hingga
tombak untuk musuh yang berada di luar jangkauan Blade of Chaos. Namun
perlu diingat, senjata-senjata ini hanya bisa digunakan dalam waktu yang
terbatas. Terdesak dan tidak lagi kuasa menerima damage yang ada? Anda
bisa melancarkan serangan magic , tidak untuk sekedar memberikan damage,
tetapi juga memberikan status immune selama waktu eksekusi yang
terbatas.
Seperti halnya seri-seri God of War sebelumnya, sisi eksplorasi juga
akan membawa serangkaian puzzle yang harus diselesaikan untuk memastikan
Anda mampu bergerak menuju chapter setelahnya. Kratos akan dibekali
dengan kemampuan untuk mengendalikan waktu, menciptakan duplikat, hingga
menghancurkan perangkap ilusi untuk memastikan hal ini dimungkinkan.
Namun jangan takut bahwa puzzle ini akan membuat Anda terperangkap dalam
sebuah area untuk waktu yang lama. Dengan alur pemikiran yang logis dan
beberapa trial dan error, Anda akan dapat dengan mudah mencari
dan menemukan apa yang sebenarnya butuh Anda lakukan untuk memecahkan
setiap misteri yang ada.
Salah satu identitas yang tidak mungkin dipisahkan dari franchise God of War adalah sistem Quick Time Event sinematiknya yang memanjakan mata. Hal yang sama juga tetap dipertahankan di Ascension ini. Namun tidak lagi berfokus pada penggunaan analog, sebagian besar QTE hanya akan menuntut untuk sigap menekan keempat tombol aksi yang ada. Seolah sudah dapat diprediksi, QTE ini masih akan membawa Anda pada pertempuran Kratos dengan kamera dan animasi gerakan sinematik nan epik yang akan terus membuat mata Anda termanjakan. Sistem yang sama juga diterapkan setiap kali Anda mengeksekusi setiap musuh kuat yang Anda temui. Namun tidak lagi sekedar menawarkan QTE, beberapa musuh yang ada akan memaksa Anda untuk terlibat dalam pertempuran satu lawan satu, sekedar menyerang dan menghindar, sebelum dapat dieksekusi dengan gerakan yang super brutal. Gagal dalam event ini, maka ada dua konsekuensi yang biasanya harus Anda hadapi – antara mengulang QTE atau menerima damage yang bisa saja mengakhiri petualangan Kratos secara instan.
Preview kami sebelumnya memang secara terbuka menyoroti bagaimana
game ini berhasil mempertahankan atmosfer epik dan brutal yang selama
ini identik dengan franchise God of War. Namun seiring dengan progress
cerita dan waktu gameplay yang bergerak, Sony Santa Monica tampaknya
harus menghadapi konsekuensi atas keberanian mereka menjadikan sebuah
prekuel sebagai timeline utama. Bagi gamer yang sudah memainkan tiga
seri sebelumnya, secara psikologis, melakukan komparasi Ascension
dengan ketiga seri ini memang menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.
Setelah pengalaman luar biasa yang ditawarkan oleh God of War 3,
Ascension memang menghadapi tugas yang berat untuk dapat membuat gamer
mengalami sesuatu yang lebih baik, epik, dan sinematik. Benar saja,
Ascension gagal melakukan hal ini. Ia tampil sebagai sebuah seri yang
kurang gereget.
Tidak berkesempatan untuk mempertahankan beberapa elemen karena statusnya sebagai prekuel, sebuah sensasi yang hilang ini mulai terasa begitu Anda menjajal gameplay-nya sendiri. Tidak ada senjata ekstra yang bisa Anda gunakan selain Blade of Chaos dan perputaran setting yang dijelajahi Kratos menjadi salah satu kelemahan terbesar. Kesempatan untuk menghancurkan musuh dengan varian senjata yang lebih destruktif seolah tenggelam begitu saja. The Furies memang menjadi ancaman yang tidak kalah menyeramkannya dengan para dewa, namun ketiga musuh ini tidak mampu menawarkan pengalaman bertempur yang serupa. Fakta bahwa Anda akan terus terlibat dengan ketika “makhluk” ini dalam alur yang maju-mundur seolah merebut potensi yang sebenarnya mampu ditawarkan oleh Ascension.
Lantas bagaimana dengan tingkat brutalitasnya sendiri? Ascension
masih menawarkan pertempuran penuh darah dan Kratos yang tetap kejam
luar biasa, bahkan hingga memperlihatkan bagian dalam tubuh musuh yang
terburai begitu saja. Namun berharap untuk menemukan kejadian fenomenal
yang sempat memicu kontroversi seperti saat Kratos mencabut kepala
Helios begitu saja? Bersiaplah untuk kecewa. Posisinya sebagai sebuah
seri prekuel sangat membatasi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan
oleh Sony Santa Monica di Ascension. Bayang-bayang God of War 3 menjadi
gerhana besar yang tidak bisa lagi dibendung oleh seri prekuel ini.
Terlepas dari statusnya sebagai sebuah game hack and slash, God of
War bukanlah sebuah game yang bisa diselesaikan dengan hanya sekedar
menarik dan melemparkan Blade of Chaos Anda ke sembarang arah musuh. Ada
strategi tertentu untuk menimalisir damage yang ada, tetapi juga
memastikan diri mampu bergerak dan menyerang secara efektif. Untungnya,
dari semua musuh dan situasi berbahaya yang ada, tidak ada satupun
pertempuran yang akan membuat Anda merasa frustrasi, atau bahkan
berpikir bahwa ia tidak mungkin untuk diselesaikan. Setidaknya hingga
Anda bertemu dengan Trial of Archimedes di Ascension, salah satu chapter
yang muncul sebelum Anda mengakhiri game yang satu ini.
Ini boleh terbilang menjadi tantangan tersulit yang pernah kami rasakan selama sejarah franchise God of War. Bertempur di tingkat kesulitan normal, Anda harus selamat dari tiga lantai ujian yang memang dipersiapkan untuk menghabisi nyawa Anda. Musuh yang hadir bukanlah musuh mudah yang bisa Anda hancurkan dengan beberapa kombo terkuat. Kombinasi musuh yang mampu menyerang jarak jauh dan jarak dekat, serta armor yang terhitung alot, akan memaksa Anda terus bermanuver dan menyerang kapanpun Anda memiliki kesempatan. Mengapa sulit? Selain kombinasi musuh tiga lantai yang akan membuat Anda frustrasi, setiap lantai Trial of Archimedes tidak akan menyediakan orb hijau untuk memulihkan health Anda secara signifikan. Hasilnya? Health yang Anda bawa di setiap lantai akan diteruskan ke lantai selanjutnya. Di tingkat kesulitan normal dan yang lebih tinggi, game over tampaknya sudah menjadi konsekuensi yang harus Anda hadapi, setidaknya hingga Anda mampu menemukan celah dan menyelesaikan ujian ini.
Wanita adalah salah satu pesona God of War, siapa yang berani
menyangkal hal tersebut. Tidak main-main, mereka bahkan menyisipkan
permainan arcade dengan konten seksual implisit dan beberapa
adegan wanita tanpa busana untuk menarik perhatian basis fans, yang
memang sebagian besar pria. Gamer mana yang tidak terpesona dengan
keindahan dan kemolekan tubuh Aphrodite di God of War 3 dan memuji Sony
Santa Monica atas desainnya yang luar biasa. Seolah mampu menangkap
“keinginan” gamer, kuantitas karakter dengan jenis kelamin ini kian
diperbanyak di Ascension. Banyak dalam tingkat tidak masuk akal, mungkin
cukup untuk membuat para wanita Feminis merasa tidak nyaman.
Apa pasal? Selain wanita dengan desain memanjakan mata yang tetap
dipertahankan di dalamnya, sebagian besar musuh yang Anda hadapi
ternyata berjenis kelamin wanita, melihat dari ciri-ciri fisik yang ada,
bahkan 80% darinya. Tidak hanya tiga orang Furies: Megaera, Tisiphone,
dan Alecto yang kesemuanya wanita, Anda akan bertemu dengan
monster-monster berukuran masif yang juga berjenis kelamin sama.
Membunuh, memukuli, dan menganiaya mereka dengan cara yang super brutal,
tidak akan menjadi sesuatu yang mengejutkan jika God of War – Ascension
suatu saat akan dicurigai dan dituduh sebagai sebuah game yang sexist.
Bahkan beberapa artikel game dari situs luar negeri juga mulai menyoroti
hal yang sama.
Berani, ini mungkin kata pertama yang tepat untuk menggambarkan
langkah yang ditempuh oleh Sony Santa Monica ketika menelurkan God of
War: Ascension. Bagaimana tidak? Seolah sudah mencapai klimaksnya yang
luar biasa di God of War 3, hampir tidak mungkin bagi developer yang
satu ini untuk melahirkan sebuah seri yang lebih baik, lebih brutal, dan
lebih epik. Membungkusnya dengan sosok Kratos yang lebih “manusiawi”
tidak membuat Ascension ini tampil lebih maksimal. Beberapa identitas
yang tetap dipertahankan, dengan tingkat visualisasi yang luar biasa
tentu saja menjadi nilai jual yang akan menarik gamer-gamer setia
Playstation 3. Sulit rasanya untuk tidak membandingkan, dan sejauh ini
God of War: Ascension memperlihatkan atmosfer God of War yang kurang
gereget dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya.Terlepas dari QTE-nya
yang tetap sinematik dan menawan, ada sensasi yang terasa kurang di
seri Ascension yang satu ini.
Ada beberapa kelemahan yang patut dicatat dari seri ini, terlepas dari kurang geregetnya pengalaman yang ia hadirkan. Keputusan untuk hanya menjadikan Blade of Chaos sebagai satu-satunya senjata yang bisa digunakan tentu saja menjadi catatan tersendiri. Sony Santa Monica seharusnya menyisipkan sebuah cerita yang memungkinkan Kratos untuk menggunakan rangkaian senjata dari dewa-dewa lain yang bisa digunakan secara permanen, daripada sekedar menjadikan senjata musuh sebagai alternatif pilihan. Brutalitas yang ditawarkan memang masih penuh darah, namun tidak cukup untuk kejam untuk membuat Anda terkejut dan terpesona seperti layaknya God of War 3 di masa lalu.
Walaupun masih memiliki daya tariknya sendiri, God of War: Ascension terhitung gagal untuk keluar dari bayang-bayang God of War 3 yang tumbuh menjadi standar tersendiri. Gamer yang berharap bahwa seri ini akan mampu tampil lebih wah tampaknya harus bersiap menelan pil pahit, karena terlepas dari serupanya beragam elemen yang ia tawarkan, Ascension gagal tampil dalam kualitas yang lebih mengagumkan dan menjanjikan dibandingkan trilogi sebelumnya. Ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang akan membuat banyak gamer penggemar God of War hanya melihatnya sebagai sebuah prekuel yang tidak terlalu memorable. Sebuah seri yang dengan mudah, lewat begitu saja.
Tidak cocok untuk gamer: yang memuja sosok Kratos sebagai dewa perang brutal yang tidak mengenal emosi lain selain amarah dan balas dendam
Intisari Gameplay yang Tidak Banyak Berubah

Intisari
gameplay yang ditawarkan oleh Ascension tetap sama dengan seri-seri
sebelumnya. Kratos tetap akan mengandalkan Blade of Chaos nya untuk
menghadapi semua ancaman yang ada.
Blade of Chaos masih menjadi ujung tombak Kratos untuk menundukkan setiap tantangan yang hadir untuknya, bahkan di Ascension ini. Dengan mengeksekusi kombinasi tombol sederhana yang terbagi atas dua kategori besar – serangan ringan dan berat, Anda bisa menghasilkan rangkaian serangan kombo dengan cepat. Menahan tombol L1, maka Anda akan masuk ke dalam mode serangan yang lebih kuat yang lebih ditujukan untuk menghasilkan damage lebih besar di area yang lebih luas. Musuh yang lebih beragam dengan jenis serangannya yang unik memang menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, tidak hanya sekedar membabi buta, menghindar dengan timing yang tepat dan melancarkan serangan balik akan menjadi strategi untuk memenangkan pertarungan dengan lebih efektif.

Namun
bukan berarti Anda bisa menyerang membabi buta. Beberapa musuh hadir
lebih menantang, sehingga Anda butuh untuk bersikap lebih strategis,
menghindar dan mencari celah untuk melancarkan serangan yang lebih
efektif.

Give me my orbs!!
Sebagai sebuah prekuel, Sony Santa Monica memang tidak mungkin memaksakan diri dan bertahan dengan beragam jenis senjata yang berhasil direbut Kratos ketika memburu para dewa di tiga seri sebelumnya. Tidak bersinggungan dengan para dewa sama sekali di seri ini, variasi senjata Kratos kini dihadirkan lewat mekanisme yang berbeda. Bertahan dengan Blade of Chaos, Kratos akan mendapatkan ekstra kekuatan elemen seiring dengan progress cerita. Jadi alih-alih hanya sekedar serangan biasa, Anda kini bisa membubuhkan api dari Ares, listrik dari Zeus, es dari Poseidon, dan kegelapan dari Hades untuk membuka varian serangan, efek, dan damage ekstra untuk setiap serangan yang Anda lancarkan. Anda juga akan dibekali dengan shorcut yang akan memudahkan untuk mengganti setiap elemen ini secara real time dalam pertempuran. Tidak hanya itu saja, setiap elemen ini juga dapat diperkuat dengan orb merah untuk membuka serangan yang lebih mematikan. Mengumpulkan bar rage yang cukup, Anda juga bisa melancarkan serangan spesial setiap elemen untuk menghasilkan damage area yang dibutuhkan.

Anda
tetap berkesempatan untuk memperkuat Blade of Chaos, bahkan untuk
setiap elemen yang dikenakan. Selain memperbesar damage yang mungkin
bisa dihasilkan, upgrade juga akan memungkinkan Kratos mengakses
beberapa skill dan serangan yang lebih kuat.

Tidak
ada lagi beragam senjata dewa yang bisa Anda gunakan. Anda hanya akan
mendapatkan variasi elemen serangan Blade of Chaos di Ascension ini.

Mekanisme
variasi senjata digantikan dengan mekanisme senjata pihak ketiga yang
dapat Anda pungut dan gunakan dalam jumlah tertentu.

Tetap
hadir dengan serangkaian puzzle yang Anda butuhkan, Ascension akan
memaksa Anda untuk memutar otak. Mekanisme ekstar seperti kemampuan
mengendalikan waktu dan menciptakan duplikat memang memberikan tantangan
tersendiri.

The epic QTE!
Salah satu identitas yang tidak mungkin dipisahkan dari franchise God of War adalah sistem Quick Time Event sinematiknya yang memanjakan mata. Hal yang sama juga tetap dipertahankan di Ascension ini. Namun tidak lagi berfokus pada penggunaan analog, sebagian besar QTE hanya akan menuntut untuk sigap menekan keempat tombol aksi yang ada. Seolah sudah dapat diprediksi, QTE ini masih akan membawa Anda pada pertempuran Kratos dengan kamera dan animasi gerakan sinematik nan epik yang akan terus membuat mata Anda termanjakan. Sistem yang sama juga diterapkan setiap kali Anda mengeksekusi setiap musuh kuat yang Anda temui. Namun tidak lagi sekedar menawarkan QTE, beberapa musuh yang ada akan memaksa Anda untuk terlibat dalam pertempuran satu lawan satu, sekedar menyerang dan menghindar, sebelum dapat dieksekusi dengan gerakan yang super brutal. Gagal dalam event ini, maka ada dua konsekuensi yang biasanya harus Anda hadapi – antara mengulang QTE atau menerima damage yang bisa saja mengakhiri petualangan Kratos secara instan.
Sayangnya, Kurang Gereget!

Walaupun
secara kualitas, Ascension memperlihatkan atmosfer permainan yang
serupa, namun ada beberapa hal yang mungkin akan membuat ekspektasi
gamer tidak terbayarkan.
Tidak berkesempatan untuk mempertahankan beberapa elemen karena statusnya sebagai prekuel, sebuah sensasi yang hilang ini mulai terasa begitu Anda menjajal gameplay-nya sendiri. Tidak ada senjata ekstra yang bisa Anda gunakan selain Blade of Chaos dan perputaran setting yang dijelajahi Kratos menjadi salah satu kelemahan terbesar. Kesempatan untuk menghancurkan musuh dengan varian senjata yang lebih destruktif seolah tenggelam begitu saja. The Furies memang menjadi ancaman yang tidak kalah menyeramkannya dengan para dewa, namun ketiga musuh ini tidak mampu menawarkan pengalaman bertempur yang serupa. Fakta bahwa Anda akan terus terlibat dengan ketika “makhluk” ini dalam alur yang maju-mundur seolah merebut potensi yang sebenarnya mampu ditawarkan oleh Ascension.

Fakta
bahwa Anda hanya bisa menggunakan Blade of Chaos di sepanjang permainan
adalah salah satu hal yang patut untuk disayangkan.

Dengan
isi tubuh yang terburai, Ascension memang memperlihatkan kesan yang
lebih kejam. Namun tidak cukup fenomenal untuk membuat Anda ikut
berteriak kesakitan karenanya.
The Trial of Archimedes – Bagian Tersulit Sepanjang Sejarah God of War

Anda mungkin akan berteriak frustrasi ketika berhadapan dengan Trial of Archimedes untuk pertama kalinya.
Ini boleh terbilang menjadi tantangan tersulit yang pernah kami rasakan selama sejarah franchise God of War. Bertempur di tingkat kesulitan normal, Anda harus selamat dari tiga lantai ujian yang memang dipersiapkan untuk menghabisi nyawa Anda. Musuh yang hadir bukanlah musuh mudah yang bisa Anda hancurkan dengan beberapa kombo terkuat. Kombinasi musuh yang mampu menyerang jarak jauh dan jarak dekat, serta armor yang terhitung alot, akan memaksa Anda terus bermanuver dan menyerang kapanpun Anda memiliki kesempatan. Mengapa sulit? Selain kombinasi musuh tiga lantai yang akan membuat Anda frustrasi, setiap lantai Trial of Archimedes tidak akan menyediakan orb hijau untuk memulihkan health Anda secara signifikan. Hasilnya? Health yang Anda bawa di setiap lantai akan diteruskan ke lantai selanjutnya. Di tingkat kesulitan normal dan yang lebih tinggi, game over tampaknya sudah menjadi konsekuensi yang harus Anda hadapi, setidaknya hingga Anda mampu menemukan celah dan menyelesaikan ujian ini.
Sexist?

Wanita
memang menjadi salah satu pesona God of War dan Ascension mempertahakan
identitas tersebut. Namun kali ini dalam skala yang membuat kesan
sexist kentara keluar darinya.

Tidak
hanya The Furies saja yang akan menjadi bulan-bulanan Anda, sebagian
besar musuh yang lain juga mengusung jenis kelamin ini.

Bentuk monster seperti ini mulai terlihat sebagai sebuah pemandangan umum di Ascension.
Kesimpulan

Walaupun
masih memiliki daya tariknya sendiri, God of War: Ascension terhitung
gagal untuk keluar dari bayang-bayang God of War 3 yang tumbuh menjadi
standar tersendiri. Gamer yang berharap bahwa seri ini akan mampu tampil
lebih wah tampaknya harus bersiap menelan pil pahit, karena terlepas
dari serupanya beragam elemen yang ia tawarkan, Ascension gagal tampil
dalam kualitas yang lebih mengagumkan dan menjanjikan dibandingkan
trilogi sebelumnya. Ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang akan membuat
banyak gamer penggemar God of War hanya melihatnya sebagai sebuah
prekuel yang tidak terlalu memorable. Sebuah seri yang dengan mudah,
lewat begitu saja.
Ada beberapa kelemahan yang patut dicatat dari seri ini, terlepas dari kurang geregetnya pengalaman yang ia hadirkan. Keputusan untuk hanya menjadikan Blade of Chaos sebagai satu-satunya senjata yang bisa digunakan tentu saja menjadi catatan tersendiri. Sony Santa Monica seharusnya menyisipkan sebuah cerita yang memungkinkan Kratos untuk menggunakan rangkaian senjata dari dewa-dewa lain yang bisa digunakan secara permanen, daripada sekedar menjadikan senjata musuh sebagai alternatif pilihan. Brutalitas yang ditawarkan memang masih penuh darah, namun tidak cukup untuk kejam untuk membuat Anda terkejut dan terpesona seperti layaknya God of War 3 di masa lalu.
Walaupun masih memiliki daya tariknya sendiri, God of War: Ascension terhitung gagal untuk keluar dari bayang-bayang God of War 3 yang tumbuh menjadi standar tersendiri. Gamer yang berharap bahwa seri ini akan mampu tampil lebih wah tampaknya harus bersiap menelan pil pahit, karena terlepas dari serupanya beragam elemen yang ia tawarkan, Ascension gagal tampil dalam kualitas yang lebih mengagumkan dan menjanjikan dibandingkan trilogi sebelumnya. Ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang akan membuat banyak gamer penggemar God of War hanya melihatnya sebagai sebuah prekuel yang tidak terlalu memorable. Sebuah seri yang dengan mudah, lewat begitu saja.
Kelebihan

Ascension
menawarkan cerita yang pantas untuk diacungi jempol. Menjadi jawaban
misteri dari kemarahan dan dendam Kratos selama ini.
- Plot
- Visualisasi yang luar biasa
- Musik yang epik
- Kamera sinematik
- QTE yang tetap memanjakan mata
- Tingkat kesulitan yang lebih menantang
Kekurangan

Terlepas
dari begitu banyak darah yang terkucur dan bagian tubuh yang terpotong
di seri ini, kesan brutalitasnya sendiri terasa menurun jika
dibandingkan dengan God of War 3 yang membuat kesan Kratos tak ubahnya
seorang maniak.
- Variasi senjata yang hanya berfokus pada Blade of Chaos
- Brutalitas yang terasa kurang
- Keseluruhan pengalaman yang terasa kurang memenuhi ekspektasi
- Kehadiaran segudang karakter wanita yang terkesan dipaksakan
Tidak cocok untuk gamer: yang memuja sosok Kratos sebagai dewa perang brutal yang tidak mengenal emosi lain selain amarah dan balas dendam
Sumber : http://jagatplay.com